Kamis, 24 Juni 2010

Kamis, 17 Juni 2010

Keluarga kecil bahagia


Penulis bersama keluarga ( istri, anak 2 nisa dan arum juga anak adinda Junaidah -rahma)

Masa remaja penulis dengan abang Isnen

Hidup di Jakarta penuh dengan tantangan dan hambatan, maju terus, tetap semangat raih cita-cita mulia. ( masa kami di salah satu rumah kontrakan bersama abang ) awal perjuangan

Masa kecil penulis , saudara dan nenek2

Penulis waktu khitanan, saudara al : kakak sukurni, saidah, kakak darsani, kedua nenek ku (alm) .

Abang dan Adik Tahun 76

Saipul bahri dan Isnen / kenangan naik sepeda di bawah rumah tahun 76

3 Bersaudara


Penulis dan kedua abang dan adiknya ) - saipul bahri, Junaidah dan Isnen

WALIMAHAN PENULIS TAHUN 2001


Trimakasih kepada kedua orang tuaku yang telah melahirkan dan mendidiku hingga sekarang lalu menikahkanku semoga selalu limpahan rahmatnya kepada kita semua, amin

WALIMAHAN ANDINDA PANGERAN RADIN DEMANG

Acara Dikiran di malam hari

PAKAIAN PENGANTEN ADAT LAMPUNG

Model : Istri dari Pangeran Radin Demang / elvis

PAKAIAN PENGANTEN ADAT LAMPUNG

Salah satu putra Daerah Tebing : Adinda Ikbal Yasin yang baru-baru ini menunaikan pernikahannya semoga Keluarga yang di bina nanti sakinah, mawwadah , warohmah, amin ya robal alamin

Rabu, 16 Juni 2010

KRITIK DAN SARAN ANDA

Bila sahabat ingin menyampaikan kritik dan saran silahkan ke alamat email : 
radin.saipul@gmail.com
 atau
 Hp (SMS- 0821-7646-1616)


Selasa, 15 Juni 2010

TARIAN MELINTING

RUMAH DI KAMPUNG TEBING JUGA

RUMAH DI KAMPUNG TEBING

TARIAN LAMPUNG


Kesenian Melinting

Kesenian
Melinting merupakan salah satu bentuk seni yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat Melinting, Lampung Timur. Awalnya kesenian ini secara
khusus diperuntukkan bagi keluarga Ratu Melinting dengan hanya
dipertunjukkan di lingkungan keratuan, dimana para pelakunya pun
...terbatas pada keturunan raja saja. Namun berbagai perubahan dialami
sehingga kemudian menjadi milik masyarakat secara luas. Tulisan ini
secara khusus mengangkat bentuk penyajian kesenian Melinting serta
keberadaan kesenian ini di dalam masyarakatnya. Keratuan
Melinting masih berdiri hingga saat ini dengan wilayah kekuasaan
meliputi tujuh desa, yaitu Meringai, Tanjung Aji, Tebing, Wana, Nibung,
Pempen, dan Negeri Agung. Masyarakat dari desa-desa inilah yang
kemudian dikenal dengan masyarakat Melinting. Mereka hidup dalam sebuah
sistem budaya atau adat istiadat, dan memiliki konsep-konsep hidup yang
khas. Sebut saja Pi’il, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyepur, dan Bejuluk Beadek/Beinai, lima prinsip hidup yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat dan tergambar dalam kesenian Melinting.Kesenian
Melinting terdiri dari dua elemen utama, yaitu musik dan tari, serta
didukung oleh sejumlah elemen lain sehingga menghasilkan sebuah bentuk
seni pertunjukan. Ansambel musik dalam kesenian Melinting adalah
gamelan Talo Bala dengan instrumennya yang terdiri dari kelittang, talo, gindang/gelittang, bende, dan canang/petuk. Gamelan Talo Bala dalam kesenian Melinting hanya memainkan tabuh Kedanggung. Untuk elemen tari, ragam gerak dalam kesenian Melinting dibedakan antara penari putra dan penari putri.Keberadaan
kesenian Melinting terkait erat dengan berbagai dinamika yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat. Kekuasaan pemerintah yang menggeser
kekuasaan mutlak Keratuan Melinting turut berperan dalam pergeseran
kesenian Melinting dari kesenian khusus keratuan menjadi kesenian milik
masyarakat. Dinamika lain terjadi dalam kehidupan sektor pariwisata,
perkembangan dunia pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta migrasi penduduk. Dari hal tersebut tampak bahwa kesenian
Melinting beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam
masyarakat. Faktor lain yang mendukung keberadaan kesenian Melinting
adalah sifatnya yang komunal, fleksibel, dan edukatif. Kesenian
Melinting juga memberikan berbagai kontribusi kepada masyarakat berupa
fungsi, yaitu sebagai hiburan, identitas masyarakat, media komunikasi,
penopang integrasi sosial, penjaga kesinambungan budaya, dan
penyelenggaraan kesesuaian dengan norma-norma sosial. Kesenian
Melinting juga merupakan sebuah perwujudan konsep masyarakat ideal yang
menanamkan sikap sopan santun, ramah-tamah, saling menghormati, gotong
royong, dan kebersamaan.Kata kunci: Masyarakat Melinting, prinsip hidup, dinamika, adaptasi.

Melinting

Melinting adalah salah satu marga di Suku Lampung. Terdiri dari pitu (tujuh) tiuh (desa).
1. Tiuh Meringgai.
2. Tiuh Tebing.
3. Tiuh Tanjung Aji.
4. Tiuh Wano.
...5. Tiuh Nibung.
6. Tiuh Pempen.
7. Tiuh Ngeragung.
Kepemimpinan
dalam Keratuan Melinting dipimpin oleh seorang Ratu Sultan Melinting.
Bawahannya adalah Seorang Bandar Melinting, membawahi para penyembang
dari 7 tiuh dalam wilayah adat Keratuan Melinting. Merekalah yg menjadi
pengayom, pengurus adat pernikahan para rakyat Peribumi Keratuan
Lampung Melinting.

Melinting baru atau Melinting Kecamatan
adalah hasil pemekaran kecamatan induk Labuhan Maringgai, saat
Reformasi Indonesia. Kecamatan Melinting terdiri dari 6 desa. 2
wilayah, barat dan timur. 3 desa wilayah barat : Desa Wana, Desa
Sumberhadi, Desa Itik Rendai dan 3 desa wilayah timur :
Desa Tanjung Aji, Desa Tebing, Desa Sido Makmur.
Hasil
bumi : Lada, kelapa, pisang, coklat, pepaya, padi, jagung, buah2an
musiman ( durian, cempedak, duku, dll). Kehidupan masyarakat damai,
tenang, persatuan dan kesatuannya kuat. Bumi Melinting cukup subur.
Sehingga membuai penduduk pribumi tidak perlu pupuk dalam bercocok
tanam,
tapi berbeda dengan penduduk baru mereka aktif menggunakan pupuk. Hasil
pun jauh berbeda, lebih banyak hasil pertanian yang gunakan pupuk.
Penduduk pribumi masih berpola hidup tradisional. Rumah panggung dari
kayu alam, masih menjadi ciri khas bangunan lamanya. Potensi Melinting
belum begitu banyak di berdayakan, dari sisi seni budaya, keahlian,
sosial, ekonomi, pariwisata, dll.

alm RESMI BUSTOMI - 5 JUNI 2017